Ditulis oleh: Herni Dwi Karya, siswa SMA N 14 Tebo, Provinsi Jambi
Dalam acara ekstrakurikuler semester ganjil yang lalu, OSIS SMA Negeri 14 Kabupaten Tebo beserta perwakilan dari masing-masing kelas mengadakan kunjungan ke tempat tinggal Suku Anak Dalam di Bukit Duabelas.
Sebelum kami berangkat ke Bukit Duabelas, ada beberapa tahap yang harus kami lalui sebelumnya. Ada pengarahan dari guru dan kakak pendamping dari KKI-Warsi yang dilakukan dalam kegiatan apel pagi di Balai Desa bersama Bapak Kepala Desa.
Kemudian kami lekas berangkat menuju Bukit Duabelas dengan menggunakan sepeda motor. Itupun hanya sampai pada rumah terakhir. Disitulah kendaraan kami titipkan dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Selama di perjalanan kakak pendamping memberikan sedikit informasi mengenai Orang Rimba yang hidupnya berkelompok yang selanjutkan sering dikenal dengan rombong. Pemimpin tertinggi Orang Rimba disebut Tumenggung.
Menurut sensus Orang Rimba tercatat 1689 jiwa. Cara mereka hidup dengan berburu, bercocok tanam atau memanfaatkan hasil hutan. Adat istiadat atau kebiasaan Orang Rimba yang diketahui adalah ‘melangun’ yakni meninggalkan anggota kelompok yang terkena kemalangan (sakit) atau kematian.
Pada tahun 2000, Bukit Duabelas memiliki luasan sekitar 60.500 Ha. Selain itu taman nasional yang dilindungi di Provinsi Jambi yang memiliki Suku Anak Dalam antara lain Taman Nasional Bukit Duabelas, Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Berbak, dan Taman Nasional Bukit Tigapuluh.
Sesampainya di tempat Orang Rimba tinggal, kami lekas meminta izin kepada pemimpin kelompok Rimba. Setelah berbincang-bincang, kami diperbolehkan mengadakan acara bermain bersama Anak Rimba. Saat yang paling seru adalah ketika main memindahkan karet gelang menggunakan pipet yang digigit dengan mulut. Disitulah dimana rasa persatuan dan kekompakan sangat terasa. Walaupun kami agak susah berkomunikasi dengan Anak Rimba, namun kami tetap senang.
Tidak terasa waktu beranjak sore dan kamipun harus pergi. Kemudian acara ditutup dan kami semua berpamitan pulang. Sebelum pulang, kami berfoto-foto bersama dengan semua komunitas Orang Rimba yang ada di tempat itu. Inilah kenang-kenangan dari kami untuk mereka.
Sepanjang perjalanan pulang, meskipun letih, kami semua tetap senang. Kegiatan ini sangat berkesan walaupun sesaat. Pengalaman hari itu tidak dapat kami lupakan dan kami merasa cukup memuaskan kami yang sama sekali masih belum mengerti mengenai kehidupan Orang Rimba. Ternyata Orang Rimba tidak seperti yang kami bayangkan.
Tulisan ini didedikasikan untuk Kegiatan OSIS yang didampingi oleh KKI-WARSI, Jambi dan diikutsertakan dalam lomba menulis oleh KKI-WARSI.





